Senin, 03 Juli 2017

Kematangan Beragama Dalam Perspektif Islam

Pengertian kematangan beragama
Kematangan beragama adalah kemampuan seseorang dalam mengenali atau memahami nilai agama yang terletak pada nilai-nilai luhurnya serta menjadikan nilai nilai dalam bersikap dan bertingkah laku merupakan ciri dari kematangan beragama. Jadi, kematangan beragama terlihat dari kemampuan seseorang untuk memahami nilai-nilai  luhur agama yang di anutnya dalam kehidupan sehari-hari.
Manusia mengalami dua macam perkembangan jasmani dan rohani. Perkembangan jasmani diukur berdasarkan umur kronologis, sebaliknya perkembangan rohani diukur berdasarkan tingkat kemampuan (abilitas). Pencapaian tingkat abilitas tertantu bagi perkembangan rohani inilah yang disebut dengan kematangan beragama.
Kematangan dalam beragama atau kedewasaan seseorang dalam beragama biasanya ditunjukkan dengan kesadaran keyakinan yang teguh karena menganggap benar akan agama yang di anutnya dan ia memerlukan agama tersebut dalam hidupnya, dan keyakinan itu lalu di tampilkannya dalam sikap dan tingkah laku keagamaan yang mencerminkan ketaatan terhadap agamanya.
Dalam islam kematangan beragama diliat dari bagaimana seorang individu telah konsisten terhadap Islam, memahami nilai-nilai dan ajaran agama islam, serta menjadikan nilai-nilai dan ajaran tersebut dalam setiap tingkah laku kehidupannya.
Kematangan jiwa beragama merupakan pengalaman puncak yang sngat tinggi dalam proes pencarian jati diri dari suatu agama. Kematangan agama tidak dapat diperoleh dalam waktu yang cepat dan merupakan sebuah proses yang panjang. Penggambaran tentang kematangan jiwa beragama tidak terlepas dari kriteria kematangan kepribadian. Kesadaran beragama yang mantap hanya terdapat pada orang yang memiliki kepribadian yang matang. Akan tetapi, kepribadian yang matang belum tentu disertai dengan kesadaran beragama yang mantap.

Orang yang matang beragama menurut Al-quran

            Dalam islam kematangan beragama diliat dari bagaimana seorang individu telah konsisten terhadap Islam, memahami nilai-nilai dan ajaran agama islam, serta menjadikan nilai-nilai dan ajaran tersebut dalam setiap tingkah laku kehidupannya.
            Di dalam al-qur’an terdapat berbagai sumber hukum yang bisa dijadikan sebuah literature untuk menentukan hukum, baik itu alqur’an, hadist, maupun ijtihad. Begitu pula hal nya yang berkaitan dengan psikologi agama terutama erat kaitannya dengan kriteria orang yang matang beragama.
Kriteria orang yang matang beragama di dalam al-qur’an cukup bervariasi. Salah satunya seperti dalam sepuluh ayat pertama dalam Q.S Al-Mu’minun 

قَدْ أَفْلَحَ الْمُؤْمِنُوْنَ ۙ(١) الَّذِيْنَ هُمْ فِيْ صَلَاتِهِمْ خَاشِعُوْنَ ۙ(٢) وَالَّذِيْنَ هُمْ عَنِ اللَّغْوِ مُعْرِضُوْنَ ۙ(٣) وَالَّذِيْنَ هُمْ لِلزَّكٰةِ فَاعِلُوْنَ ۙ(٤) وَالَّذِيْنَ هُمْ لِفُرُوْجِهِمْ حٰفِظُوْنَ ۙ(٥) إِلَّا عَلٰٓى أَزْوَاجِهِمْ أَوْ مَا مَلَكَتْ أَيْمَانُهُمْ فَإِنَّهُمْ غَيْرُ مَلُوْمِيْنَ ۚ(٦) فَمَنِ ابْتَغٰى وَرَآءَ ذٰلِكَ فَأُولٰٓئِكَ هُمُ الْعٰدُوْنَ ۚ(٧) وَالَّذِيْنَ هُمْ لِأَمٰنٰتِهِمْ وَعَهْدِهِمْ رَاعُوْنَ ۙ(٨) وَالَّذِيْنَ هُمْ عَلٰى صَلَوٰتِهِمْ يُحَافِظُوْنَ ۘ(٩) أُولٰٓئِكَ هُمُ الْوَارِثُوْنَ ۙ(١٠)
 
Artinya :
1. Sesungguhnya beruntunglah orang-orang yang beriman, 2. (yaitu) orang-orang yang khusyu' dalam sembahyangnya,3. Dan orang-orang yang menjauhkan diri dari (perbuatan dan perkataan) yang tiada berguna,4. Dan orang-orang yang menunaikan zakat,5. Dan orang-orang yang menjaga kemaluannya,6. Kecuali terhadap isteri-isteri mereka atau budak yang mereka miliki[994]; Maka Sesungguhnya mereka dalam hal ini tiada terceIa.7. Barangsiapa mencari yang di balik itu[995] Maka mereka Itulah orang-orang yang melampaui batas.8. Dan orang-orang yang memelihara amanat-amanat (yang dipikulnya) dan janjinya.9. Dan orang-orang yang memelihara sembahyangnya.10. Mereka Itulah orang-orang yang akan mewarisi,

Dalam ayat ini kriteria orang yang matang beragama yang diberikan al-qur’an adalah:

1.      Mereka yang kusyu’ dalam shalatnya
2.      Menjauhkan diri dari perbuatan-perbuatan yang tidak berguna
3.      Menunaikan zakat
4.      Menjaga kemaluannya kecuali kepada isteri-isteri yang sah
5.      Jauh dari perbuatan yang melampaui batas (zina, homoseksual, dll)
6.      Memelihara amanat dan janji yang di pikulnya
7.      Memelihara shalatnya

dan bagian akhir dari surah al-furqan.

وَعِبَادُ الرَّحْمٰنِ الَّذِيْنَ يَمْشُوْنَ عَلَى الْأَرْضِ هَوْنًا وَّإِذَا خَاطَبَهُمُ الْجٰهِلُوْنَ قَالُوْا سَلٰمًا (٦٣) وَالَّذِيْنَ يَبِيْتُوْنَ لِرَبِّهِمْ سُجَّدًا وَّقِيَامًا (٦٤) وَالَّذِيْنَ يَقُوْلُوْنَ رَبَّنَا اصْرِفْ عَنَّا عَذَابَ جَهَنَّمَۖ إِنَّ عَذَابَهَا كَانَ غَرَامًا ۖ(٦٥) إِنَّهَا سَاءَتْ مُسْتَقَرًّا وَّمُقَامًا (٦٦) وَالَّذِيْنَ إِذَا أَنْفَقُوْا لَمْ يُسْرِفُوْا وَلَمْ يَقْتُرُوْا وَكَانَ بَيْنَ ذٰلِكَ قَوَامًا (٦٧)
  
Artinya :
63. Dan hamba-hamba Tuhan yang Maha Penyayang itu (ialah) orang-orang yang berjalan di atas bumi dengan rendah hati dan apabila orang-orang jahil menyapa mereka, mereka mengucapkan kata-kata (yang mengandung) keselamatan.64. Dan orang yang melalui malam hari dengan bersujud dan berdiri untuk Tuhan mereka 65. Dan orang-orang yang berkata: "Ya Tuhan Kami, jauhkan azab Jahannam dari Kami, Sesungguhnya azabnya itu adalah kebinasaan yang kekal". 66. Sesungguhnya Jahannam itu seburuk-buruk tempat menetap dan tempat kediaman 67. Dan orang-orang yang apabila membelanjakan (harta), mereka tidak berlebihan, dan tidak (pula) kikir, dan adalah (pembelanjaan itu) di tengah-tengah antara yang demikian.

Kriteria orang yang matang beragama dalam ayat ini:

1.      Merendahkan diri dan tawadhu’
2.      Menghidupkan malamnya dengan bersujud (qiyamullail)
3.      Selalu takut dan meminta ampunan agar terjauh dari jahannam
4.      Membelanjakan hartanya secara tidak berlebihan dan tidak pula kikir
5.      Tunduk dan tidak menyekutukan Allah, tidak membunuh, tidak berzina
6.      Suka bertaubat, tidak memberi persaksian palsu dan jauh dari perbuatan yang sia-sia, memperhatikan al-quran, bersabar, dan mengharap keturunan yang bertaqwa (q.s al-furqan:63-67)

Selain dua surah di atas, masih banyak dalam alqur’an kriteria orang yang matang beragama yang Allah sebutkan. Diantaranya:

-          Orang tersebut sangat cinta kepada Allah (Q.S Al-baqarah : 165)
-          Beriman kepada semua nabi (Q.S Al-Baqarah : 136)
-          Mereka senantiasa mengabdi dan beribadah kepada-Nya (Q.S Al-Baqarah:194)
-          Mereka juga orang yang selalu setia pada janji (QS.Al-Baqarah:177)
-          Mereka selalu membantu dalam kebajikan dan bukan dalam hal kejahatan (Q.S Al-Maidah:2)
-          Bersikap adil walaupun harus merugikan dirinya dan golongan (Q.S An-Nisa’135)
-          Bersikap jujur sekalipun pada lawan (Q.S Al-Maidah: 2)
-          Hidup secara wajar (Q.S Al-Baqarah: 62)
-          Selalu menafkahkan sebagian harta untuk menafkahkan orang lain (Q.S Al-Imran : 133-134)
-          Dan masih banyak lainnya.

Orang yang matang beragama menurut as-sunnah (hadist)

Salah satu kriteria muslim yang matang dalam beragama di sebutkan dalam salah satu hadist :
Rasulullah Saw memeberikan batas minimal bagi seseorang yang disebut muslim yaitu apabila muslim-muslim lain merasa aman dari lidah dan tangannya (H.R Muslim)

Sementara ciri-ciri lain disebutkan cukup banyak bagi orang yang meningkatkan kualitas imannya, Nabi menganjurkan dengan berbagai peringatan,:
-      “Barangsiapa beriman kepada Allah dan rasul-Nya hendaknya dia mencintai saudaranya sendiri seperti ia       mencintai dirinya sendiri “ (H.R Bukhari)
-        “Tidak beriman seseorang sampai tetangganya merasa aman dari gangguannya” (HR.Bukhari dan Muslim)
-   “Tidak beriman seseorang kepada Allah sehingga dia mencintai Allah dan Rasul-Nya daripada kecintaan lainnya..” (HR.Muslim)

Dari hadist-hadist diatas dapat kita ketahui beberapa kriteria orang yang matang beragama dalam as-sunnah diantaranya : Menjaga lidah dan tangannya agar tidak mengganggu orang lain,menghormati tetangganya dan saudaranya sesama muslim, juga sangat mencintai Allah dan Rasul-Nya melebihi cintanya pada yang lain.
Ringkas kata, orang yang matang beragama , dia berpedoman pada petunjuk al-qur’an dan mengikuti contoh praktek rasulullah( as-sunnah ), sehingga dia betul-betul menjaga hubungan  “hablum minallah” (hubungan vertikal dengan Allah) dan “hablum minannas” (hubungan horizontal dengan sesama manusia)


Salah satu sahabat Rasul, Ali r.a berpendapat bahwa klimaks orang yang matang keberagamaannya adalah apabila orang tersebut bertaqwa kepada Allah swt, dan inti taqwa itu ada 4 menurut ali ra yaitu : 1. Mengamalkan isi Al-qur’an, 2.Takut kepada Allah sehingga berbuat sesuai dengan perintah-Nya dan meninggalkan larangan-Nya, 3.Puas dengan pemberian Allah, 4. Persiapan menuju kematian dengan meningkatkan kualitas keimanan dan amal shaleh.

Sedangkan Ibnul qayyim, ulama abad ke-7 , menyebutkan 9 kriteria bagi orang yang matang beragama:
1.     Ia terbina keimanannya, yaitu selalu menjaga kualitas keimanannya agar selalu bertambah
2.  Ia terbina ruhiyahnya, yaitu menanamkan pada dirinya kebesaran dan keagungan Allah serta segala yang dijanjikan di akhirat kelak, sehingga ia menyibukkan diri untuk meraihnya
3.     Ia terbina pemikirannya sehingga akalnya diarahkan untuk memikirkan ayat-ayat Allah
4.     Ia terbina perasaannya sehingga segala ungkapan perasaan ditujukan kepada Allah, senang atau benci, marah atau rela semuanya karena Allah
5.    Dia tebina akhlaknya dimana kepribadiannya dibangun atas pondasi akhlak mulia sehingga kalau berbicara dia jujur, bermuka manis, menyantuni yang tidak mampu, tidak menyakiti orang lain dan berakhlak mulia.
6. Ia terbina kemasyarakatannya, karena menyadari, sebagai makhluk sosial dia harus memperhatikan lingkungannya sehingga ia berperan aktif mensejahterakan masyarakat, baik intelektual, ekonomi, gotong royongnya dll.
7.    Ia terbina kemauannya, sehingga tidak mengumbar kemauannya ke arah distruktif tapi justru di arahkan sesuai dengan kehendak Allah.
8.    Ia terbina kesehatan badannya, karena itu ia memberikan hak-hak badannya untuk ketaatannya kepada Allah. Karena rasul bersabda : “orang mukmin yang kuat itu lebih dicintai Allah daripada mukmin yang lemah (HR.Ahmad)
9.      Ia terbina nafsu seksualnya yaitu di arahkan kepada perkawinan yang halal sehingga menghasilkan keturunan yang shaleh dan bermanfaat bagi agama dan negara.

Referensi
Al-qur’an dan terjemahannya,Yayasan penyelenggara Penterjerjemah / Penafsir Al-Qur’an
Hadist-Hadist Nabi yang terkumpul dalam Shahih Bukhari,Muslim dll
Jalaluddin, Psikologi Agama edisi revisi,2009,Jakarta:PT Rajagrafindo Persada.
Prof.DR.Zakiah Drajat,Ilmu Jiwa Agama, Bulan Bintang, Jakarta,cet.15,1996
Al-Fiktrut Tarbawi ‘Inda Ibnil Qayyim, Dr.Hasan Bin Ali bin Hasan Al-Hajjaji, Darul Hafidz, Jeddah,cet.I,1408 H- 1998 M


74 komentar:

  1. dasar hukumnya bnyak.. kuat buat d jadikan dasar... nice eee

    BalasHapus
  2. Mantappp... Sukses trus yaa... :)

    BalasHapus
  3. Mantappp... Sukses trus yaa... :)

    BalasHapus
  4. Bermanfaat sekali artikelnya..

    BalasHapus
  5. Bagus dan bermanfaat untuk semua ��

    BalasHapus
  6. Bagus dan bermanfaat untuk semua ��

    BalasHapus
  7. Alhamdulillah,artikelnya sangat membantu,dtunggu tulisan slanjutnya..

    BalasHapus
    Balasan
    1. Alhamdulillah, semoga tulisan selanjutnya juga dapat membantu dan bermanfaat

      Hapus
  8. artikelnya sangat bagus karna dimuat sumber sumber terpecaya. Im waiting for the next task

    BalasHapus
  9. Sangat bermanfaat dan membantu dalam mengerjakan tugas kuliah.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Semoga kedepannya bisa lebih bermanfaat lagi 😊

      Hapus
  10. Pembahasannya antarelite dan menarik. Nice

    BalasHapus
  11. artikelnya bagus dan bermanfaat yang sudah membacanya

    BalasHapus
    Balasan
    1. Alhamdulillah, smoga kedepannya lebih bermanfaat lagi 😊

      Hapus
  12. Keren dan sangat bermanfaat bagi semua orangg
    Good luck

    BalasHapus
  13. Sangat bagus dan bermanfaat untuk org yg krg faham dlm beragama...

    BalasHapus
    Balasan
    1. Alhamdulillah Semoga kedepan bisa lebih bermanfaat bagi semua orang 😊

      Hapus
  14. Alhamdulillah bisa menambah wawasan dalam beragama

    BalasHapus
  15. Pembahasannya sangat bermanfaat..

    BalasHapus
  16. sangat bermanfaat untuk kita baca

    BalasHapus
  17. Bagus dan sangat bermanfaat😊

    BalasHapus
  18. Bagus sekali. Dalil dalilnya sangat kuat dan banyak. Sangat bermanfaat.ditunggu tulisan selanjutnya.

    BalasHapus
  19. Bagus sekali. Dalil dalilnya sangat kuat dan banyak. Sangat bermanfaat.ditunggu tulisan selanjutnya.

    BalasHapus
  20. MasyaAllah luar biasa sangat membantu
    Alhamdulillah

    BalasHapus
  21. MasyaAllah luar biasa sangat membantu
    Alhamdulillah

    BalasHapus
  22. Komentar ini telah dihapus oleh pengarang.

    BalasHapus
  23. Penjelasan mudah dipahami, referensi oke, cocok buat semua kalangan pembaca.
    Good lanjutkan.

    BalasHapus
  24. Semaunya berdasarkn dalil, mantap nih..
    Akan lebih enak dibaca apabila sub judulnya diberi warna agar jls terpisah dg isinya..
    Terus mncoba n tingkatkan kawan (y)

    BalasHapus
  25. Ini sangat bagus apa lagi ada ayatnya

    BalasHapus
  26. very nice kawan,tingkatkan lagi semoga artikel selanjutnya menjadi lebih baik.

    BalasHapus
  27. Materinya sangat Bagus,dapat dijadikan motivasi

    BalasHapus
  28. Wah terimakasih. Ini nih yg saya cari2. Pembahasannya lengkap.

    BalasHapus
  29. Alhamdulillah, Terimakasih semuanya atas komentar yang membangun dan sangat membantu. Semoga kedepannya bisa lebih baik😊

    BalasHapus