Sabtu, 03 Juni 2017

Ruang Lingkup Psikologi Agama

Pentingnya mempelajari psikologi agama
            Menurut prof. Dr. Zakiah Daradjat, Psikologi agama adalah cabang psikologi yang meneliti dan mempelajari tingkah laku manusia dalam hubungannya dengan pengaruh keyakinan terhadap agama yang dianutnya dan kaitannya dengan perkembangan manusia masing-masing dan dilakukan dengan pendekatan psikologi (zakirah Daradjat,1970:11). Persoalan pokok dalam psikologi agama kajian terhadap kesadaran agama dan tingkah laku agama (kata Robert H.Thouless:11)
Pendekatan psikologi agama banyak dimanfaatkan dalam berbagai lapangan kehidupan seperti pendidikan, psikoterapi, dan dalam lapangan kehidupan lainnya seperti bimbingan konseling islam. psikologi agama dan bimbingan konseling islam sangat berkaitan erat. Sebelum kita memberikan konseling keagamaan terhadap orang lain terlebih dahulu kita harus menerapkan kesadaran agama dan aspek-aspek kematangan dalam psikologi agama pada diri kita. Psikologi agama sangat penting dipelajari bagi mahasiswa Bimbingan dan konseling islam. Kita mahasiswa BKI harus mampu memahami dan melihat keterkaitan antara agama dan psikis dan pengaruhnya terhadap tingkah laku manusia. Pendekatan psikologi agama sangat bermanfaat dan efektif dalam membantu pemberian bantuan dan layanan terhadap klien dimasa yang akan datang. Psikologi agama dapat membantu dalam memecahkan berbagai permasalahan hidup.
Dalam banyak kasus, pendekatan psikologi agama, baik secara langsung maupun tidak langsung dapat digunakan untuk membangkitkan perasaan dan kesadaran agama. Pengobatan pasien dirumah sakit, usaha bimbingan dan penyuluhan narapidana di Lembaga pemayarakatan banyak dilakukan dengan menggunakan psikologi agama ini. Demikian pula dalam lapangan pendidikan psikolgi agama dapat difungsikan pada pembinaan moral dan mental keagamaan peserta didik (Zakirah Daradjat,2016:15). Selain itu kita dapat menerapkan nilai-nilai keagamaan untuk menenangkan perasaan pikologis klien.
Sejarah Perkembangan Psikologi Agama  
Sejarah perkembangan psikologi agama tidak diketahui pasti kapan psikologi agama muncul dan di pelajari. Namun Jalaluddin (2004:29) mengutip pernyataan Robert H.Thoules (1992:29)mengemukaan bahwa, berdasarkan sumber barat, para ahli psikologi agama menilai bahwa kajian psikologi agma mulai populer sekitar abad ke-19. Sekitar masa itu psikologi yang semakin berkembang digunakan sebagai alat kajian agama.
Menurut Robert H.Thouless, yang dikutip jalaluddin (2004:29-31), sejak terbitnya buku The varieties of religious experience tahun 1903, sebagai kumpulan dari materi kuliah willliamsjames di universitas, langkah awal kajian psikologi agama diakui para ahli psikologi 30 tahun berikutnya. Banyak buku lain yang diterbitkan sejalan dengan konsep yan serupa. Diantara buku-buku tersebut adalah The psychologi of Religion karangan E.D Starbuck yang terbit tahun 1899 ini kemudian disusul sejumlah buku lain seperti the spiritual life oleh george Albert Coe,tahun1900, kemudian The belief in God and immortality1921, oleh J.H Leuba dan oleh Robert H Thouless dengan judul an introduction, tahun 1923 serta RA. Nicholson yang khusus mempelajari aliran sufisme dalam islam dengan bukuny The Studies islamic Mysticism, tahun 1921.
Sejalan dengan perkembangan itu, para penulis non-barat pun mulai menerbitkan buku-buku mereka. Di tanah air sendiri, tulisan mengenai psikologi agama ini baru dikenal sekitar tahun 1970-an, yaitu oleh Prof.Dr.Zakirah Drajat. Ada sejumlah buku yang beliau tulis untuk kepentingan buku pegangan bagi mahasiswa di lingkungan IAIN. Diluar itu, kulih mengenai psikologi agama juga sudah diberikan, khususnya di fakultas Tarbiyah oleh Prof.Dr.A.Mukti Ali dan Prof.Dr.Zakirah Drajat sendiri. Kedua orang ini dikenal sebagai pelopor pengembangan psikologi agama di IAIN Indonesia.
Perkembangan Jiwa Kegamaan
            Hampir seluruh ahli ilmu jiwa sepakat bahwa sesungguhnya apa yang menjadi keinginan manusia tidak hanya sebatas kebutuhan makan, minum ataupun kenikmatan-kenikmatan lainnya. Berdasarkan hasil riset dan obsrvasi, mereka menyimpulkan bahwa pada diri manusia trdapat keinginan yang bersifat universal dan kondrati, yakni keinginan untuk mencintai dan dicintai Tuhan. Dalam diri manusia sesungguhnya manusia ingin mengabdikan dirinya pada sesuatu yang dianggap sebagai zat yang mempunyai kekuasaan tertinggi.
            W.H thomas berpendapat bahwa yang menjadi sumber kejiwaan agama adalah empat macam keinginan yang ada dalam jiwa manusia, yaitu : keinginan untuk keselamatan (security), mendapatkan penghargaan (recognation), keinginan untuk ditanggapi (response), dan keinginan akan pengetahuan atau pengalaman baru (new experience).
Timbulnya dan berkembangnya jiwa keagamaan bagi setiap individu mengalami peningkatan di setiap tingkatan umur pertumbuhan dan perkembangan manusia. Seperti pada masa kanak-kanak yang jiwa keagamaan nya dibina dan dibentuk pada awalnya dari keluarga, orang tua sebagai “madrasatul ulaa” sangat berperan penting dalam membentuk dan mengajarkan keagamaan pada anak. bentuk sifat-sifat keagamaan pada anak diantaranya masih tidak begitu mendalam (unreflective), mengenal Tuhan berdasarkan pegalaman kala berhubungan dengan orang lain (anthromorphis), tumbuh berawal dari ucapan (verbal) dan berkembang berdasarkan kebiasaan (ritualis), suka meniru dan mencontoh (imitatif), dan jiwa keagamaan nya masih berupa rasa heran karena anak-anak belum berfikir kritis.
Perkembangan jiwa keagamaan akan semakin berkembang seiring dengan pertambahan usia. Perkembangan kognitif yang semakin pesat,kritis, dan semakin kuat kebutuhan akan agama.
Hadist yang berhubungan dengan hakikat manusia.
Dan adapula hadist yang menjelaskan tentang hakikat dan fitrah manusia, salah satunya :
كل ه لٌ دٌ ي لٌذ عل الفطزة فاب اٌه يي دٌانو ا ينصزانو ا يوجسانو
)ر اًه البخار هسلن(

tiap-tiap orang dilahirkan membawa fitrah, ayah dan ibunya lah yang menjadikannya Yahudi,Nasrani, atau majusi (HR.Bukhari dan Muslim)”
Fitrah yang dimaksud dalam hadist ini adalah potensi dan pembawaan. Setiap manusia, setiap bayi yang terlahir kedunia pada dasarnya suci (fitrah). Jiwa kegamaan telah ada sejak manusia dilahirkan. Setiap anak yang lahir membawa potensi beragama yang lurus, ayah dan ibu dalam hadist ini adalah sebagai pembawa lingkungan, penentu perkembangan dan pertumbuhan jiwa keagamaan pada anak. karena keluarga dan lingkungan merupakan penentu perkembangan manusia dalam segala aspek.
Anak yang dilahirkan dalam keadaan fitrah dapat saja berubah ke arah yang tidak diinginkan, adalah orang tua yang memikul tanggung jawab agar hidup anak itu tidak menyimpang dari garis yang lurus ini. (Muhammad Ali qutb,1993)
Selain itu, fitrah dalam hadist ini juga merujuk pada fitrah manusia sebagai makhluk sosial yang tidak dapar hidup sendirian, (sesuai dengan qs. Al hujurat:3), manusia sebagai makhluk yang ingin beragama (q.s al maidah:3), manusia mencintai wanita, anak-anak, harta benda dan keindahan lainnya (q.s ali imran: 14) dan fitrah manusia memiliki nafsu pada dirinya yakni muthmainnah,  amaarah, dan lawaamah.


Referensi :
Jalaluddin,H.Prof.Dr.(Ed.Rev,-9).Psikologi Agama, Jakarta,PT.Raja Grafindo Persada,2005.
Arifin Syamsul Bambang,M.Si. Drs. (Ed.1).Psikologi Agama, Bandung,CV.Pustaka Setia,2008   
Thouless,Robert.,Pengantar Psikologi Agama,terj.Machnun Husein,Jakarta,Rajawali,1992.
Kartanegara,Mulyadi. Nalar Religius. Memahami Hakikat Tuhan,Alam, dan Manusia.Erlangga,2007
Subandi,M.A “Psikologi agama dan Kesehatan Mental” 2013.
Lestari, Ai. "PANDANGAN ISLAM TENTANG FAKTOR PEMBAWAAN DAN LINGKUNGAN DALAM PEMBENTUKAN MANUSIA (Kajian Ilmu Pendidikan Islam)." Jurnal Pendidikan UNIGA 5.1 (2017): 1-13.


11 komentar: