Pentingnya
mempelajari psikologi agama
Menurut prof. Dr. Zakiah Daradjat,
Psikologi agama adalah cabang psikologi yang meneliti dan mempelajari tingkah
laku manusia dalam hubungannya dengan pengaruh keyakinan terhadap agama yang
dianutnya dan kaitannya dengan perkembangan manusia masing-masing dan dilakukan
dengan pendekatan psikologi (zakirah Daradjat,1970:11). Persoalan pokok dalam
psikologi agama kajian terhadap kesadaran agama dan tingkah laku agama (kata
Robert H.Thouless:11)
Pendekatan psikologi agama banyak dimanfaatkan dalam berbagai
lapangan kehidupan seperti pendidikan, psikoterapi, dan dalam lapangan
kehidupan lainnya seperti bimbingan konseling islam. psikologi agama dan
bimbingan konseling islam sangat berkaitan erat. Sebelum kita memberikan
konseling keagamaan terhadap orang lain terlebih dahulu kita harus menerapkan
kesadaran agama dan aspek-aspek kematangan dalam psikologi agama pada diri
kita. Psikologi agama sangat penting dipelajari bagi mahasiswa Bimbingan dan
konseling islam. Kita mahasiswa BKI harus mampu memahami dan melihat
keterkaitan antara agama dan psikis dan pengaruhnya terhadap tingkah laku
manusia. Pendekatan psikologi agama sangat bermanfaat dan efektif dalam
membantu pemberian bantuan dan layanan terhadap klien dimasa yang akan datang. Psikologi
agama dapat membantu dalam memecahkan berbagai permasalahan hidup.
Dalam banyak kasus, pendekatan psikologi agama, baik secara
langsung maupun tidak langsung dapat digunakan untuk membangkitkan perasaan dan
kesadaran agama. Pengobatan pasien dirumah sakit, usaha bimbingan dan
penyuluhan narapidana di Lembaga pemayarakatan banyak dilakukan dengan
menggunakan psikologi agama ini. Demikian pula dalam lapangan pendidikan
psikolgi agama dapat difungsikan pada pembinaan moral dan mental keagamaan
peserta didik (Zakirah Daradjat,2016:15). Selain itu kita dapat menerapkan
nilai-nilai keagamaan untuk menenangkan perasaan pikologis klien.
Sejarah
Perkembangan Psikologi Agama
Sejarah perkembangan psikologi agama tidak diketahui pasti kapan
psikologi agama muncul dan di pelajari. Namun Jalaluddin (2004:29) mengutip
pernyataan Robert H.Thoules (1992:29)mengemukaan bahwa, berdasarkan sumber
barat, para ahli psikologi agama menilai bahwa kajian psikologi agma mulai
populer sekitar abad ke-19. Sekitar masa itu psikologi yang semakin berkembang
digunakan sebagai alat kajian agama.
Menurut Robert H.Thouless, yang dikutip jalaluddin (2004:29-31),
sejak terbitnya buku The varieties of religious experience tahun 1903, sebagai
kumpulan dari materi kuliah willliamsjames di universitas, langkah awal kajian
psikologi agama diakui para ahli psikologi 30 tahun berikutnya. Banyak buku
lain yang diterbitkan sejalan dengan konsep yan serupa. Diantara buku-buku
tersebut adalah The psychologi of Religion karangan E.D Starbuck yang terbit
tahun 1899 ini kemudian disusul sejumlah buku lain seperti the spiritual life
oleh george Albert Coe,tahun1900, kemudian The belief in God and
immortality1921, oleh J.H Leuba dan oleh Robert H Thouless dengan judul an introduction,
tahun 1923 serta RA. Nicholson yang khusus mempelajari aliran sufisme dalam
islam dengan bukuny The Studies islamic Mysticism, tahun 1921.
Sejalan dengan perkembangan itu, para penulis non-barat pun mulai
menerbitkan buku-buku mereka. Di tanah air sendiri, tulisan mengenai psikologi
agama ini baru dikenal sekitar tahun 1970-an, yaitu oleh Prof.Dr.Zakirah
Drajat. Ada sejumlah buku yang beliau tulis untuk kepentingan buku pegangan
bagi mahasiswa di lingkungan IAIN. Diluar itu, kulih mengenai psikologi agama
juga sudah diberikan, khususnya di fakultas Tarbiyah oleh Prof.Dr.A.Mukti Ali
dan Prof.Dr.Zakirah Drajat sendiri. Kedua orang ini dikenal sebagai pelopor pengembangan
psikologi agama di IAIN Indonesia.
Perkembangan
Jiwa Kegamaan
Hampir
seluruh ahli ilmu jiwa sepakat bahwa sesungguhnya apa yang menjadi keinginan
manusia tidak hanya sebatas kebutuhan makan, minum ataupun
kenikmatan-kenikmatan lainnya. Berdasarkan hasil riset dan obsrvasi, mereka
menyimpulkan bahwa pada diri manusia trdapat keinginan yang bersifat universal
dan kondrati, yakni keinginan untuk mencintai dan dicintai Tuhan. Dalam diri
manusia sesungguhnya manusia ingin mengabdikan dirinya pada sesuatu yang
dianggap sebagai zat yang mempunyai kekuasaan tertinggi.
W.H thomas berpendapat bahwa yang
menjadi sumber kejiwaan agama adalah empat macam keinginan yang ada dalam jiwa
manusia, yaitu : keinginan untuk keselamatan (security), mendapatkan
penghargaan (recognation), keinginan untuk ditanggapi (response), dan keinginan
akan pengetahuan atau pengalaman baru (new experience).
Timbulnya dan berkembangnya jiwa keagamaan bagi setiap individu
mengalami peningkatan di setiap tingkatan umur pertumbuhan dan perkembangan
manusia. Seperti pada masa kanak-kanak yang jiwa keagamaan nya dibina dan
dibentuk pada awalnya dari keluarga, orang tua sebagai “madrasatul ulaa” sangat
berperan penting dalam membentuk dan mengajarkan keagamaan pada anak. bentuk
sifat-sifat keagamaan pada anak diantaranya masih tidak begitu mendalam
(unreflective), mengenal Tuhan berdasarkan pegalaman kala berhubungan dengan
orang lain (anthromorphis), tumbuh berawal dari ucapan (verbal) dan berkembang
berdasarkan kebiasaan (ritualis), suka meniru dan mencontoh (imitatif), dan
jiwa keagamaan nya masih berupa rasa heran karena anak-anak belum berfikir
kritis.
Perkembangan
jiwa keagamaan akan semakin berkembang seiring dengan pertambahan usia.
Perkembangan kognitif yang semakin pesat,kritis, dan semakin kuat kebutuhan
akan agama.
Hadist
yang berhubungan dengan hakikat manusia.
Dan adapula hadist yang menjelaskan tentang hakikat dan fitrah
manusia, salah satunya :
كل ه لٌ دٌ ي لٌذ عل الفطزة فاب اٌه يي دٌانو ا ينصزانو
ا يوجسانو
)ر اًه البخار هسلن(
“ tiap-tiap orang dilahirkan membawa fitrah, ayah dan ibunya lah
yang menjadikannya Yahudi,Nasrani, atau majusi (HR.Bukhari dan Muslim)”
Fitrah
yang dimaksud dalam hadist ini adalah potensi dan pembawaan. Setiap
manusia, setiap bayi yang terlahir kedunia pada dasarnya suci (fitrah). Jiwa
kegamaan telah ada sejak manusia dilahirkan. Setiap anak yang lahir membawa
potensi beragama yang lurus, ayah dan ibu dalam hadist ini adalah sebagai
pembawa lingkungan, penentu perkembangan dan pertumbuhan jiwa keagamaan pada
anak. karena keluarga dan lingkungan merupakan penentu perkembangan manusia
dalam segala aspek.
Anak
yang dilahirkan dalam keadaan fitrah dapat saja berubah ke arah yang tidak
diinginkan, adalah orang tua yang memikul tanggung jawab agar hidup anak itu
tidak menyimpang dari garis yang lurus ini. (Muhammad Ali qutb,1993)
Selain
itu, fitrah dalam hadist ini juga merujuk pada fitrah manusia sebagai makhluk
sosial yang tidak dapar hidup sendirian, (sesuai dengan qs. Al hujurat:3),
manusia sebagai makhluk yang ingin beragama (q.s al maidah:3), manusia
mencintai wanita, anak-anak, harta benda dan keindahan lainnya (q.s ali imran:
14) dan fitrah manusia memiliki nafsu pada dirinya yakni muthmainnah, amaarah, dan lawaamah.
Referensi
:
Jalaluddin,H.Prof.Dr.(Ed.Rev,-9).Psikologi
Agama, Jakarta,PT.Raja Grafindo Persada,2005.
Arifin
Syamsul Bambang,M.Si. Drs. (Ed.1).Psikologi Agama, Bandung,CV.Pustaka Setia,2008
Thouless,Robert.,Pengantar
Psikologi Agama,terj.Machnun Husein,Jakarta,Rajawali,1992.
Kartanegara,Mulyadi.
Nalar Religius. Memahami Hakikat Tuhan,Alam, dan Manusia.Erlangga,2007
Subandi,M.A
“Psikologi agama dan Kesehatan Mental” 2013.
Lestari, Ai. "PANDANGAN ISLAM TENTANG
FAKTOR PEMBAWAAN DAN LINGKUNGAN DALAM PEMBENTUKAN MANUSIA (Kajian Ilmu
Pendidikan Islam)." Jurnal Pendidikan UNIGA 5.1 (2017): 1-13.
Good
BalasHapusGood
BalasHapusAlhamdulillah sangat bermanfaat
BalasHapusAlhamdulillah sangat bermanfaat
BalasHapusIzin copy ya, materinya sangat membantu ��
BalasHapusSangat membangun
BalasHapusReferensinya diperluas lg, agar smakin baik tulisannya.
BalasHapusMateri nya sangat bagus
BalasHapusSemoga dpat menambah wawasan kita
BalasHapusBagi yg mengerti pasti sangat baik untk diri sndri..
BalasHapusSangat bermanfaat untuk menambah bahan tugas
BalasHapus